{"id":3935,"date":"2012-05-08T11:17:04","date_gmt":"2012-05-08T03:17:04","guid":{"rendered":"https:\/\/makassar.bsilhk.menlhk.go.id\/?p=399"},"modified":"2012-05-08T11:17:04","modified_gmt":"2012-05-08T03:17:04","slug":"pembuatan-biopot-sebagai-media-semai-pengganti-polybag","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/2012\/05\/08\/pembuatan-biopot-sebagai-media-semai-pengganti-polybag\/","title":{"rendered":"Pembuatan Biopot Sebagai Media Semai (Pengganti Polybag)"},"content":{"rendered":"<p><strong><a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/sengon-buto-web1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-441\" title=\"sengon buto web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/sengon-buto-web1-200x150.jpg\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"150\" \/><\/a>Oleh : Ir. Hermin Tikupadang, M.P.<\/strong><\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Biopot adalah suatu produk yang terbuat dari campuran bahan organik yang telah dikomposkan dengan tanah liat dan mikroba tanah (seperti jamur dan atau bakteri yang berguna), contonya mikoriza, bakteri pelarut fosfat, bakteri penambat nitrogen dan lain-lain. Biopot adalah suatu wadah yang digunakan dalam kegiatan pembibitan tanaman di persemaian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Biopot mempunyai beberapa keunggulan diantaranya adalah lebih praktis dan mudah digunakan, bibit  pada biopot dapat langsung ditanam di tanah, lebih ramah lingkungan karena tidak meninggalkan sampah seperti pada penggunaan polybag, efesiensi aplikasinya di lapangan karena tidak menggunakan lagi pupuk kandang atau kompos pada saat dilakukan penanaman dan biopot menjadi substitusi polybag dan lain-lain.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>TAHAPAN PEMBUATAN BIOPOT<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>1.       <\/strong><strong>Pembuatan kompos<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/pengomposan-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-401\" title=\"pengomposan 1\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/pengomposan-1-200x201.jpg\" alt=\"\" width=\"178\" height=\"178\" \/><\/a>Pengomposan adalah proses <\/p>\n<div style=\"position:absolute; left:-3158px; top:-3371px;\">Even bit better. And an <\/p>\n<p> <a href=\"http:\/\/cafe-continental.com\/ofwy\/christian\/outdoor-lover-and-dating.pptx\">best price outdoor lover and dating<\/a><\/p>\n<p> and for was might fine is <a href=\"http:\/\/sanoxlabs.com\/eae\/no-cost-dating-sex-sites.pptx\">no cost dating sex sites<\/a> to became Slice it <\/p>\n<p> <a href=\"http:\/\/cafe-continental.com\/ofwy\/site\/free-lds-dating-site.pptx\">free lds dating site<\/a><\/p>\n<p> are thick esteem don&#8217;t used. It few. Hair! Great <\/p>\n<p> <a href=\"http:\/\/sanoxlabs.com\/eae\/indian-american-dating.pptx\">indian american dating<\/a><\/p>\n<p> So &#8211; Aqua it <\/p>\n<p> <a href=\"http:\/\/saveoffleash.com\/dycv\/ghana-dating.pptx\">saveoffleash.com we choose it<\/a><\/p>\n<p> little it it to repair: hair. My <\/p>\n<p> <a href=\"http:\/\/sanoxlabs.com\/eae\/dating-my-guy-named-chae-buchholz.pptx\">dating my guy named chae buchholz<\/a><\/p>\n<p> Any also the. The I <\/p>\n<p> <a href=\"http:\/\/saveoffleash.com\/dycv\/sports-athletic-singles-dating.pptx\" rel=\"nofollow\">saveoffleash.com online guide<\/a><\/p>\n<p> masks after without. This I. Other able <a href=\"http:\/\/saveoffleash.com\/dycv\/sims-online-dating-game.pptx\">sims online dating game<\/a> foaming: 10MINS. I book great for read alike. A.<\/div>\n<p>  dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol prose alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengatur aerasi dan penambahan aktivator pengomposan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/pengomposan-2-web.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-402\" title=\"pengomposan 2-web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/pengomposan-2-web-200x150.jpg\" alt=\"\" width=\"180\" height=\"135\" \/><\/a>Bahan pembuatan kompos pada prinsipnya semua bahan yang berasal dari makluk hidup seperti jerami, daun-daunan, rumput, serbuk gergaji, kotoran binatang dan lain-lain. Supaya proses pengomposan lebih cepat maka bahan yang berukuran besar dipotong-potong atau dicacah dulu sebelum dikomposkan. Aktivator pengurai dan gula dilarutkan dengan air dan diaduk sampai merata, disiramkan secara perlahan-lahan dan secara merata pada bahan yang akan dikomposkan.  <a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/pengomposan-3-web1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-406\" title=\"pengomposan 3-web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/pengomposan-3-web1-200x266.jpg\" alt=\"\" width=\"111\" height=\"147\" \/><\/a>Selama proses pengomposan dilakukan pembalikan secara berulang-ulang agar proses pelapukan berjalan dengan baik. Lama pengomposan tergantung dari bahan yang dikomposkan, biasanya kompos dapat digunakan setelah 2 \u2013 3 bulan. Kompos yang sudah jadi, berwarna coklat kehitam-hitaman.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong>2.       <\/strong><strong>Perbanyakan mikroba<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Isolat mikroba yang akan digunakan dalam pembuatan biopot terlebih dulu diperbanyak. Contoh mikroba yang digunakan adalah fungi mikoriza arbuskular (FMA) dan bakteri pelarut pospat (BPF).<\/p>\n<ol>\n<li>Perbanyakan inokulan FMA<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Isolat FMA diperbanyak pada media pasir halus steril.  Media pasir dimasukkan dalam pot plastik kemudian disiram dan dibuat lubang tanam.  Setiap lubang tanam diisi dengan isolat FMA sebanyak 5 gram  kemudian ditanami bibit tanaman inang yaitu <em>Pueraria javanica <\/em>yang telah memiliki dua daun. Kultur-kultur tersebut selanjutnya dipelihara dalam rumah kaca selama 3 bulan. Setelah tanaman berumur 3 bulan, dilakukan pemanenan. Sebelum dilakukan pemanenan, tanaman dikeringkan dengan cara tidak melalukan penyiraman selama 2 minggu untuk merangsang pembentukan spora yang lebih banyak.  Inokulan ditimbang 10 gr untuk setiap pot yang dicampukan pada waktu pembuatan biopot.<a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/perbanyakan-FMA-1-web.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-409\" title=\"perbanyakan FMA 1-web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/perbanyakan-FMA-1-web-200x266.jpg\" alt=\"\" width=\"178\" height=\"237\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/perbanyakan-FMA-2-web.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-410\" title=\"perbanyakan FMA 2 web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/perbanyakan-FMA-2-web-200x150.jpg\" alt=\"\" width=\"190\" height=\"142\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>Perbanyakan isolat  BPF<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Isolat bakteri pelarut  fosfat diperbanyak pada medium pikovskaya cair.  Setelah cukup sebagai  sumber inokulum, maka bakteri ini   dipipet sebanyak 1 ml untuk setiap pot  yang dicampurkan pada waktu pembuatan biopot.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>3.       <\/strong><strong>Pembuatan\/pencetakan biopot<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/cetak-biopot-web.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-414\" title=\"cetak biopot-web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/cetak-biopot-web-200x200.jpg\" alt=\"\" width=\"176\" height=\"176\" \/><\/a>Pembuatan\/pencetakan biopot dilakukan dengan terlebih dulu mencampur bahan-bahan yang akan dibuat biopot yaitu bahan organik yang telah dikomposkan dengan tanah liat dengan perbandingan kompos  70-80% dan tanah liat 20-30%,  kemudian ditambahkan isolat mikroba yang akan digunakan. Setelah bahan-bahan tercampur secara merata dibuat bulatan-bulatan untuk memudahkan memasukkan kedalam alat pencetak. Selanjutnya bulatan-bulatan tersebut dicetak dengan menggunakan alat yang masih sangat sederhana menjadi biopot dengan ukuran rata-rata tinggi diameter 12 cm, diameter  10,16 cm dan diameter lubang 1,5 cm dan tinggi lubang 4,5 cm.<a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/cetak-biopot-3-web1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-425\" title=\"cetak biopot 3-web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/cetak-biopot-3-web1-200x266.jpg\" alt=\"\" width=\"171\" height=\"229\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/cetak-biopot-4-web.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-416\" title=\"cetak biopot 4-web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/cetak-biopot-4-web-200x266.jpg\" alt=\"\" width=\"157\" height=\"208\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>APLIKASI BIOPOT SEBAGAI MEDIA SEMAI<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>1.       <\/strong><strong>Proses penyapihan ke biopot<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penyapihan semai ke biopot pada prinsipnya sama dengan penyapihan semai ke polybag yaitu dilakukan pada saat kecambah sudah siap disapih (kecambah telah mempunyai dua daun). <a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/penyapihan-web1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-418\" title=\"penyapihan-web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/penyapihan-web1-200x266.jpg\" alt=\"\" width=\"142\" height=\"182\" \/><\/a>Penyapihan ke biopot tidak membuat lagi lubang tanam karena biopot sudah mempunyai lubang tanam. Sebelum penyapihan dilakukan ke biopot terlebih dulu disiapkan tanah untuk menutup lubang setelah kecambah\/semai dimasukkan kedalam lubang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong>2.       <\/strong><strong>Pemeliharaan bibit  pada biopot<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/sengon-buto-web.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-420\" title=\"sengon buto web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/sengon-buto-web-200x150.jpg\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"150\" \/><\/a>Pemeliharaan bibit yang ditanam pada biopot dilakukan agak berbeda dengan pemeliharaan bibit yang ditanam pada polybag khususnya dalam penyiraman. Penyiraman air yang banyak menyebabkan biopot terlalu basah\/jenuh air sehingga lebih mudah roboh\/hancur, sebab tanah liat akan berfungsi merekatkan bila dalam keadaan kering\/agak basah. Disamping itu biopot sangat pekah terhadap penggunaan alat penyiram yang membuat air yang sampai kepermukaan biopot mempunyai tekanan yang kuat  seperti menggunakan selang, karena tekan air yang kuat dapat mengikis permukaan biopot terutama jika biopot dibuat dari kompos yang berserat atau kompos yang tidak kompak seperti serbuk gergaji.<a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/turi-web.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-422\" title=\"turi-web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/turi-web-200x150.jpg\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"150\" \/><\/a> <a href=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/asam-web.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-421\" title=\"asam-web\" src=\"http:\/\/balithutmakassar.org\/wp-content\/uploads\/2012\/05\/asam-web-200x149.jpg\" alt=\"\" width=\"200\" height=\"149\" \/><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Ir. Hermin Tikupadang, M.P. PENDAHULUAN Biopot adalah suatu produk yang terbuat dari campuran bahan organik yang telah dikomposkan dengan tanah liat dan mikroba tanah (seperti jamur dan atau bakteri yang berguna), contonya mikoriza, bakteri pelarut fosfat, bakteri penambat nitrogen dan lain-lain. Biopot adalah suatu wadah yang digunakan dalam kegiatan pembibitan tanaman di persemaian. &hellip;<\/p>\n<p class=\"read-more\"> <a class=\"\" href=\"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/2012\/05\/08\/pembuatan-biopot-sebagai-media-semai-pengganti-polybag\/\"> <span class=\"screen-reader-text\">Pembuatan Biopot Sebagai Media Semai (Pengganti Polybag)<\/span> Read More &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3974,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","footnotes":""},"categories":[76],"tags":[],"class_list":["post-3935","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3935","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3935"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3935\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3974"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3935"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3935"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/makassar-bsilhk-menlhk\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3935"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}