{"id":5625,"date":"2021-11-03T11:27:51","date_gmt":"2021-11-03T04:27:51","guid":{"rendered":"https:\/\/kristusrajaungaran.com\/?p=5625"},"modified":"2021-11-03T11:27:51","modified_gmt":"2021-11-03T04:27:51","slug":"liturgia-verbi-b-i-hari-biasa-pekan-biasa-xxxi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/2021\/11\/03\/liturgia-verbi-b-i-hari-biasa-pekan-biasa-xxxi\/","title":{"rendered":"Liturgia Verbi (B-I) Hari Biasa, Pekan Biasa XXXI"},"content":{"rendered":"<p>[cmsmasters_row data_width=&#8221;boxed&#8221; data_padding_left=&#8221;3&#8243; data_padding_right=&#8221;3&#8243; data_top_style=&#8221;default&#8221; data_bot_style=&#8221;default&#8221; data_color=&#8221;default&#8221; data_bg_position=&#8221;top center&#8221; data_bg_repeat=&#8221;no-repeat&#8221; data_bg_attachment=&#8221;scroll&#8221; data_bg_size=&#8221;cover&#8221; data_bg_parallax_ratio=&#8221;0.5&#8243; data_padding_top=&#8221;0&#8243; data_padding_bottom=&#8221;50&#8243;][cmsmasters_column data_width=&#8221;1\/1&#8243;][cmsmasters_text animation_delay=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">PF S. Martinus de Porres, Biarawan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Bacaan Pertama<\/strong><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Rom 13:8-10<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kasih itu kegenapan hukum.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saudara-saudara,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Janganlah berhutang sesuatu kepada siapa pun,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">ia sudah memenuhi hukum Taurat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena firman berikut ini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan berzinah, jangan membunuh,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">jangan mencuri, jangan mengingini,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">serta segala firman lain mana pun juga\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">sudah tersimpul dalam firman ini:\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8216;Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.&#8217;<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu kasih itu kegenapan hukum Taurat.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikianlah sabda Tuhan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Mazmur Tanggapan<br \/>\n<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">Mzm 112:1-2.4-5.9,R:5a<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Refren: Orang baik menaruh belaskasihan dan memberi pinjaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">*Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak cucunya akan perkasa di bumi;\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">keturunan orang benar akan diberkati.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">*Bagi orang benar ia bercahaya laksana lampu di dalam gelap,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">ia pengasih dan penyayang serta berlaku adil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang baik menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">ia melakukan segala urusan dengan semestinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">*Ia murah hati, orang miskin diberinya derma;\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">kebajikannya tetap untuk selama-lamanya,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">tanduknya meninggi dalam kemuliaan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Bait Pengantar Injil<br \/>\n<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">1Ptr 4:14<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbahagialah kalian, jika dinista karena nama Kristus,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">sebab Roh Allah ada padamu.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Bacaan Injil<br \/>\n<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">Luk 14:25-33<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">tidak dapat menjadi murid-Ku.&#8221;<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada suatu ketika\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil berpaling Yesus berkata kepada mereka,<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Jika seorang datang kepada-Ku\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">ia tidak dapat menjadi murid-Ku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">ia tidak dapat menjadi murid-Ku.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab siapakah di antaramu, yang mau membangun sebuah menara,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">tidak duduk membuat anggaran belanja dahulu,<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan-jangan sesudah meletakkan dasar\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">ia tidak dapat menyelesaikannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu semua orang yang melihat itu akan mengejek dengan berkata,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8216;Orang itu mulai membangun, tetapi tidak dapat menyelesaikannya.&#8217;<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau raja manakah yang hendak berperang melawan raja lain,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">tidak duduk mempertimbangkan dulu\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">apakah dengan sepuluh ribu orang ia dapat melawan musuh\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">yang datang menyerang dengan dua puluh ribu orang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tidak dapat, ia akan mengirim utusan selama musuh masih jauh\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikianlah setiap orang di antaramu\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya,<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">tidak dapat menjadi murid-Ku.&#8221;<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikianlah sabda Tuhan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Renungan Injil<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu pemahaman yang saya peroleh dari membaca dan merenungkan Injil adalah perihal bagaimana kita menafsirkan Injil itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tidak bisa mengartikannya secara tekstual, kata demi kata, atau pun kalimat demi kalimat, dan bahkan tidak cukup pula kalau memahaminya berdasarkan perikop demi perikop.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, kita mesti memahaminya sebagai suatu kesatuan yang utuh dan menyeluruh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita mesti berusaha menangkap apa yang tersirat di dalamnya, bukan apa yang tersurat atau tertulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan iman, semua itu akan dibukakan bagi kita, entah itu melalui orang yang sudah memahami secara menyeluruh atau pun dengan mempelajari sendiri secara tekun.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya pada Bacaan Injil hari ini, seorang yang tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid Yesus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membenci itu sifat yang buruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa iya Yesus meminta kita untuk melakukan hal yang buruk itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak mungkin membenci ibu kandung saya sendiri, takkan pernah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah ini artinya saya tidak dapat menjadi murid Yesus?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi murid Yesus artinya mesti memberi prioritas pertama dan terutama kepada hukum Allah, melebihi segala hal lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi murid Yesus itu harus mampu melepaskan diri dari segala keterikatannya dengan segala miliknya, &#8220;Demikianlah setiap orang di antaramu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang dimaksud oleh Yesus dengan &#8220;membenci&#8221; itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perintah Tuhan yang pertama adalah &#8220;Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang kedua barulah mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk bisa melaksanakan perintah Tuhan ini, kita perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya, perlu merencanakannya dengan matang, termasuk perlu menghitung-hitung apa saja konsekuensi yang mesti ditanggung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang imam atau suster menyerahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan dengan melepaskan diri dari segala miliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menjadi imam atau suster, maka perlu persiapan dan perencanaan yang matang, agar jangan berhenti di tengah jalan, mesti sampai akhir hayatnya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana halnya dengan kita yang bukan imam atau suster?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama saja, kita mesti mempersiapkan dan merencanakan dengan matang untuk menjadi murid Yesus, dan mesti sampai akhir hayat kita tetap menjadi murid-Nya, tak ada cerita berhenti di tengah jalan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Peringatan Orang Kudus<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Santo Martinus de Porrez, Pengaku Iman<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Santo Martinus de Porrez lahir di kota Lima, Peru pada tanggal 9 Desember 1579. la anak tidak sah dari perkawinan gelap seorang lelaki bangsawan Spanyol yang tinggal di Peru dengan seorang wanita Negro. Lelaki itu tidak mengakuinya sebagai anak, sehingga semenjak kecil Martin bersama saudarinya dibesarkan oleh ibunya. Semenjak masa kecilnya, Martin sudah menunjukkan suatu cara hidup yang saleh. Ia rajin berdoa dan mempunyai keprihatinan besar pada orang-orang sakit dan miskin. Bahkan sejalan dengan perkembangannya, ia sudah mulai menyadari bahwa orang yang berkenan kepada Allah bukanlah yang berkulit putih melainkan yang berjiwa putih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar tentang perkembangan Martin yang luar biasa itu, lelaki ayahnya itu kembali hidup bersama ibunya dan mengakui Martin sebagai anaknya. Ketika Martin berumur 12 tahun, ia menyekolahkan Martin. Karena Martin bercita-cita menjadi dokter, maka ia memperkenankan Martin bekerja sambil belajar pada seorang ahli bedah. Di kemudian hari setelah menjadi seorang biarawan, pengetahuan dan pengalaman medisnya itu memberi manfaat besar baginya dalam menolong orang-orang sakit. Sementara itu hidup rohaninya terus berkembang dewasa. Doa dan Kurban Misa merupakan santapan wajibnya setiap hari. Keprihatinan dan semangat pengabdiannya kepada sesama yang malang nasibnya tetap berkobar. Agar lebih banyak memusatkan perhatian pada kepentingan sesama, ia bercita-cita menjadi biarawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam rangka mewujudkan cita-citanya itu, ia &#8211; pada umur 15 tahun &#8211; meminta bekerja sebagai pelayan di biara Rosario, Lima tanpa menerima gaji. Di sana ia menjadi anggota dari Ordo Ketiga Dominikan. Banyak orang, terutama pemimpin biara itu, tertarik pada kepribadian Martin yang saleh dan aktif bekerja. Setelah 9 tahun melayani umat, ia menjadi seorang bruder awam atas permintaan pemimpin biara itu. Ia diserahi tugas-tugas sosial yang sesuai dengan bakatnya: membagikan makanan, pakaian, dan obat-obatan kepada kaum miskin. Tanpa kenal lelah ia berusaha mengumpulkan dana untuk membantu orang-orang yang berada dalam kesulitan keuangan. Tak mengherankan bahwa dalam waktu singkat ia sudah dikenal dan dicintai seluruh umat. Orang-orang kaya yang tergerak hatinya memberinya sejumlah besar uang untuk membangun sebuah panti asuhan bagi ratusan anak terlantar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di panti asuhan itu, Bruder Martin menjadi pendidik dan pembimbing anak-anak itu, sambil tetap menjalankan tugasnya sebagai pendamping dan penghibur orang-orang sakit, serta pembawa harapan bagi orang-orang yang bersusah. Dalam tugasnya itu, ia juga menyembuhkan banyak orang sakit secara ajaib, membantu memecahkan kesulitan perjodohan, dan memberikan nasehat kepada tokoh-tokoh masyarakat. Ia juga penyayang binatang-binatang termasuk cacing tanah. Tikus-tikus yang berkeliaran di dalam biara tidak lagi mengganggu karena perintahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun ia sibuk dengan berbagai tugas itu, ia tetap memanfaatkan tujuh jam sehari untuk berdoa dan bermeditasi di hadapan Sakramen Mahakudus. Ia menjalankan devosi khusus kepada Santa Perawan Maria sehingga beberapa kali ia mengalami penampakan Bunda Maria. Bruder Martin terkenal karena kerendahan hatinya dan usahanya yang gigih untuk memperhatikan dan membela orang-orang Indian dan Negro. Hal ini ditentang keras oleh para bangsawan Spanyol di Peru. Karena perjuangannya itu, ia sering dihina dan dicerca sebagai anak tidak sah dan berdarah campur. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak merasa terhina, karena ia percaya bahwa semua yang dilakukannya berkenan pada Allah. Prinsipnya ialah semua manusia diciptakan Allah dan sama di hadapan Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama menjalani kehidupan membiara, Martin tidak pernah meminta jubah baru. Ia hanya mempunyai satu jubah yang diberikan kepadanya ketika ia resmi menjadi seorang anggota di biara itu. Ketika ajalnya mendekat, ia dengan rendah hati meminta sehelai jubah baru. Katanya: &#8220;Inilah jubah kuburku yang akan kupakai untuk menghadap takhta pengadilan Allah.&#8221; Tak lama berselang, bruder saleh ini menghembuskan nafasnya terakhir pada tanggal 3 Nopember 1639, dalam usia 59 tahun. Jenazahnya dipikul ke kubur oleh dua orang uskup, wakil raja Spanyol dan seorang pegawai tinggi kerajaan. Makamnya dikunjungi banyak pejabat gereja dan pejabat Kerajaan Peru. Ia digelari &#8216;beato&#8217; pada tahun 1837 oleh Sri Paus Gregorius XVI (1831-1846) dan dinyatakan &#8216;kudus&#8217; pada tanggal 6 Mei 1962 oleh Sri Paus Yohanes XXIII (1958-1963). Ia diangkat sebagai pelindung suci bagi para pejuang karya penghapusan diskriminasi rasial.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Santo Hubertus, Pengaku Iman<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam buku-buku para kudus terdapat sebuah lukisan yang mengisahkan pengalaman rohani Santo Hubertus. Tergambar seorang pemburu berlutut di hadapan seekor kijang jantan besar yang di antara tanduknya terdapat sebuah salib yang bersinar-sinar. Di bawah lukisan itu tertulis: Santo Hubertus:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Putera bangsawan ini lahir di Belgia. Ayahnya bernama Bertrandus, Pangeran Aquitaino, sedang ibunya bernama Hugberna. Sejak kecil Hubert dididik secara Kristiani oleh orangtuanya. Namun ia sendiri kurang memperhatikan perkembangan hidup rohaninya. Ia lebih sibuk dengan kegemarannya: berburu kijang di hutan. Banyak waktunya dihabiskan untuk berburu. Bila tiba hari minggu, ia sibuk dengan anjinganjingnya, menyandang panah dan busur untuk pergi berburu, meskipun kawan-kawannya mengajaknya ke gereja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertobatannya berawal di hutan rimba, tempat ia menguber binatang-binatang buruannya. Hari itu, Hari Jumat Suci. Sepanjang hari itu umat merenungkan sengsara Kristus. Tetapi Hubert tak tergugah sedikit pun dengan hari raya besar itu. Ia malah menyiapkan anjing-anjingnya, menyandang panah dan busur lalu pergi ke hutan untuk berburu. Tetapi apa yang terjadi? Hari itu hari sial: ia sendirian di hutan yang lebat dan sunyi itu; seekor kijang pun tidak tampak. Sedang menyesali kesialan itu, tiba-tiba tampak seekor kijang jantan besar sedang berdiri menantangnya di antara semak-semak. Tubuh kijang itu kekar, dan tanduknya besar. Dengan gesit Hubertus segera mengejar mangsanya. Kijang itu berlari hingga letih lalu sekonyong-konyong berdiri menantangnya. Hubertus pun berdiri terpaku sambil melihat kijang itu dengan takut. Ia takut karena pada tanduk kijang itu terdapat sebuah salib yang bersinar-sinar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman ini aneh dan ajaib, mengherankan sekaligus menakutkan Hubert. Ia semakin takut ketika mendengar kijang itu berkata kepadanya: &#8220;&#8221;Mengapa engkau mengejar Aku? Tidakkah engkau merayakan Hari Jumat Suci? Hidupmu kausia-siakan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bernilai.&#8221;&#8221;\u00a0 Mendengar itu Hubert gemetar ketakutan. Ia lalu berlutut dan berdoa menyesali dosa-dosanya. Semenjak itu ia berjanji membaharui hidupnya dan berniat untuk mengabdi Kristus. Kejadian ini barulah tersiar di kemudian hari setelah ia meninggal dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesudah kejadian istimewa itu Hubert menjadi orang yang baik-baik. Ia memusatkan perhatiannya pada kehidupan rohaninya dengan lebih banyak berdoa dan bermatiraga. Kemudian ia menjadi rohaniwan yang melayani Uskup Lambertus di Maastricht, Nederland. Melihat cara hidupnya yang saleh, Uskup Lambertus menahbiskan dia menjadi imam, dan mengangkatnya menjadi pembantu Uskup. Tak lama kemudian Uskup Lambertus, yang lantang menentang tindakan asusila para pejabat istana, dibunuh secara keji. Hubert-lah yang dipilih menggantikan dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai uskup, Hubertus sangat aktif dalam karyanya. Ia berhasil mempertobatkan banyak orang kafir yang masih menyembah berhala di pegunungan Ardenne. Ia wafat pada tanggal 30 Mei 727 sementara dalam perjalanan pastoral ke berbagai desa di keuskupannya. Ia diangkat menjadi pelindung para pemburu. Mantol yang biasa dikenakannya masih tersimpan di Paris hingga sekarang. Konon, orang yang digigit anjing gila dapat sembuh kalau menyentuh mantel itu.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Santo Malakios dari Armagh, Pengaku Iman<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengenai pribadi Malakios, Santo Bernardus menulis: &#8220;Di antara semua mujizat Santo Malakios, mujizat yang terbesar ialah dirinya sendiri.&#8221; Kalimat ini berarti bahwa kemenangan paripurna atas dirinya merupakan keajaiban yang besar yang hanya dapat kita pahami sebagai karunia rahmat Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malakios O&#8217;More lahir di Armagh, Irlandia Utara, pada tahun 1095, dan meninggal dunia pada tanggal 2 Nopember 1148. Setelah ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1120, ia berusaha keras untuk membaharui tata tertib hidup Gereja Irlandia. Salah satu hal yang mencolok di dalam Gereja Irlandia pada masa itu ialah penerapan sistim klen di dalam hirarki Gereja. Jabatan tinggi dan rendah di dalam administrasi Gereja dikuasai oleh keluarga tertentu. Kecuali itu ciri khas monastik sangat kuat mewarnai kehidupan Gereja Keltik Irlandia. Pemimpin sekolah-sekolah biara adalah uskup dan orang-orang dari keluarganya sendiri. Ketika terjadi penggerebekan oleh para bajak laut Denmark, ribuan rahib dibunuh; ada yang melarikan diri ke luar negeri. Dalam situasi itu anggota keluarga uskup yang berstatus awam menjaga kekayaan biara. Kehidupan keagamaan merosot dan biara-biara tak terpelihara baik. Orang-orang awam yang menguasai kekayaan biara menganggap kepemimpinan biara sebagai hak turunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu biara yang terkenal ialah biara Bangor di County Down. Paman Malakios, seorang awam, memegang gelar kehormatan sebagai Abbas di biara itu. Pada tahun 1123 ia mengalihkan jabatan itu kepada Malakios. Dengan berbagai cara Malakios mulai membaharui kembali biara itu dan mengamankan semua miliknya termasuk tanah-tanah. Bersama 10 orang muridnya ia mulai membangun kembali rumah-rumah biara itu. Oleh karena keberhasilannya itu, ia ditahbiskan menjadi Uskup Down dan Connor. Dalam kedudukan itu ia mempunyai kekuatan untuk membaharui Gereja Irlandia dan kehidupan sakramental di antara umat serta menegakkan disiplin hidup para rohaniwan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, Celsus, Uskup Armagh, meminta Malakios untuk menduduki takhta keuskupan Armagh, meskipun sanak keluarga Celsus yang telah menguasai keuskupan itu selama 100 tahun tidak menyetujui keputusan itu. Pada tahun 1139 ia pergi ke Roma untuk menerima pakaian kebesaran Uskup Agung untuk takhta keuskupan Armagh dan Cashel. Ia singgah di biara Clairvaux, Prancis. Di sana ia bertemu dan berkenalan dengan Santo Bernardus. Ia kagum akan cara hidup para biarawan di dalam biara Clairvaux itu. Baginya biara itu sungguh-sungguh menampakkan surga di dunia ini. Karena begitu terkesan maka ia mengajukan permohonan kepada paus untuk menetap di sana. Namun Paus Innosensius III (1198-1126) mengangkat dia menjadi utusannya ke Irlandia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam perjalanannya kembali ke Irlandia, ia singgah lagi di Clairvaux. Empat orang imamnya tetap tinggal di sana untuk mempelajari cara hidup membiara ala Clairvaux. Di kemudian hari bersama 4 orang imam itu, Malakios mendirikan biara Cistercian Mellifont, dekat Drogheda, Irlandia. Dengan demikian Malakios adalah pendiri dan perintis biara Clairvaux di Irlandia. Ketika semua tugas yang dibebankan Paus kepadanya selesai dilaksanakan, demikian juga semua urusan penting menyangkut pendirian biara itu, Malakios pergi lagi ke Roma untuk melaporkannya kepada Paus. Ia singgah lagi di biara Clairvaux. Tetapi di biara itu ia jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia pada tanggal 2 Nopember 1148 di pangkuan Santo Bernardus. Ia dinyatakan &#8216;kudus&#8217; pada tahun 1190 oleh Paus Klemens III (1187-1191).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malakios dikenal sebagai orang kudus yang menaruh hormat besar kepada orang-orang mati dan sangat rajin mendoakan keselamatan mereka. Ia berusaha agar jenazah mereka dimakamkan secara Kristiani.\u00a0 Banyak orang menertawakan dia karena terlalu memperhatikan orang-orang yang sudah meninggal. Tak terkecuali saudarinya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari kematiannya pada tanggal 2 Nopember itu tepat dengan hari peringatan Jiwa-jiwa di Api Penyucian. Tanggal itu tepat benar bagi Malakios yang selalu mendoakan keselamatan Jiwa-jiwa di Api Penyucian.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[\/cmsmasters_text][\/cmsmasters_column][\/cmsmasters_row]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PF S. Martinus de Porres, Biarawan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-5625","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-harian"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5625","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5625"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5625\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5625"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5625"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5625"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}