{"id":6686,"date":"2022-02-03T08:23:09","date_gmt":"2022-02-03T01:23:09","guid":{"rendered":"https:\/\/kristusrajaungaran.com\/?p=6686"},"modified":"2022-02-03T08:23:09","modified_gmt":"2022-02-03T01:23:09","slug":"tradisi-tahun-baru-imlek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/2022\/02\/03\/tradisi-tahun-baru-imlek\/","title":{"rendered":"Tradisi Tahun Baru Imlek"},"content":{"rendered":"<p>[cmsmasters_row data_padding_bottom=&#8221;50&#8243; data_padding_top=&#8221;0&#8243; data_bg_parallax_ratio=&#8221;0.5&#8243; data_bg_size=&#8221;cover&#8221; data_bg_attachment=&#8221;scroll&#8221; data_bg_repeat=&#8221;no-repeat&#8221; data_bg_position=&#8221;top center&#8221; data_color=&#8221;default&#8221; data_bot_style=&#8221;default&#8221; data_top_style=&#8221;default&#8221; data_padding_right=&#8221;3&#8243; data_padding_left=&#8221;3&#8243; data_width=&#8221;boxed&#8221;][cmsmasters_column data_width=&#8221;1\/1&#8243;][cmsmasters_text animation_delay=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Antara akhir Januari dan pertengahan Februari keturunan Tionghoa merayakan tahun baru cina atau yang disebut perayaan imlek <\/span><span style=\"font-weight: 500;\">sebagai penanda pergantian kalender China.<\/span> <span style=\"font-weight: 500;\">Kata imlek sendiri berasal dari bunyi dialek Hokkian yang dalam bahasa Mandarin disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">yin li <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\">(1).<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>MISKONSEPSI UCAPAN<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Ada miskonsepsi ketika orang memberi ucapan perayaan imlek. Keturunan Tionghoa biasanya memberi ucapan menggunakan frasa <\/span><span style=\"font-weight: 500;\">&#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">X\u012bnni\u00e1n ku\u00e0il\u00e8<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\">&#8221; (\u65b0\u5e74\u5feb\u4e50\/\u65b0\u5e74\u5feb\u6a02) ,&#8221;<\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">Gu\u00f2ni\u00e1n h\u01ceo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\">&#8221; (\u8fc7\u5e74\u597d), &#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">B\u00e0ini\u00e1n le<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\">&#8221; (\u62dc\u5e74\u4e86), &#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">B\u00e0ini\u00e1n la<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\">&#8221; (\u62dc\u5e74\u5566). Jika bertujuan untuk memberi doa dan harapan, maka biasanya orang-orang menggunakan frasa\u00a0 &#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">Kung hei fat choi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\">&#8221; (<\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bahasa_Kantonis\"><span style=\"font-weight: 500;\">bahasa Kantonis<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 500;\">), &#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">Kiong hi huat cai<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\">&#8221; (<\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bahasa_Hokkien\"><span style=\"font-weight: 500;\">bahasa Hokkien<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 500;\">), dan &#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">Kiong hi fat choi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\">&#8221; (<\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bahasa_Hakka\"><span style=\"font-weight: 500;\">bahasa Hakka<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 500;\">). Namun khalayak umum telah terbiasa mengatakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">Gong Xi Fa Cai<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\"> untuk memberi selamat tahun baru cina. Padahal arti dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">Gong Xi Fa Cai<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\"> bukanlah selamat tahun baru melainkan \u201c<\/span><span style=\"font-weight: 500;\">Semoga mendapat kekayaan yang makin melimpah\u201d(2). Namun karena maksud dan tujuannya sama-sama baik, jarang orang mengoreksi hal tersebut.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>TRADISI WAJIB<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Selain itu, keturunan Tionghoa juga mempunyai tradisi-tradisi saat merayakan imlek. Seperti diantaranya dengan berkumpul bersama keluarga besar untuk mempererat tali persaudaraan, melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">Kiong Hie<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\"> (sungkem dengan orang yang lebih tua) untuk meminta doa yang terbaik dalam menjalani hidup kedepan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Ketika keluarga besar telah berkumpul, ada tradisi lain yang tidak bisa dilewatkan, yaitu saling berbagi angpao. Angpao bisa diberikan ke orang yang lebih muda atau tua. Tetapi hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah berkeluarga.\u00a0 Angpao tidak boleh mengandung angka 4 karena dianggap sebagai pembawa sial. Nominalnya juga tidak boleh ganjil karena berkaitan dengan pemakaman. Berbagi angpao diyakini membuat rezeki semakin lancar di kemudian hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Ada juga pagelaran barongsai dan liong (naga). Barongsai sendiri dipercaya menjadi lambang dari kebahagiaan dan kesenangan. Tariannya pun dipercaya membawa keberuntungan, dan juga menjadi salah satu cara mengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu manusia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>KULINER YANG TIDAK BISA TERLEWAT.<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Imlek tak bisa lepas dari berbagai kuliner yang lekat dengan perayaannya.\u00a0 Salah satu yang wajib ada saat perayaan adalah kue keranjang.\u00a0 Makanan itu dianggap sebagai simbol rejeki yang lebih baik di tahun baru. Selain itu kue keranjang juga melambangkan harapan agar keluarga bisa selalu bersatu dan hidup rukun. Kuliner lain yang tak kalah menarik adalah mie atau misoa. Menu itu melambangkan umur panjang. Perlu diketahui juga ada kepercayaan bahwa saat makan mie atau misoa, tidak boleh sengaja dipotong. Dipercaya dapat memperpendek umur. Selain itu ada manisan dan permen berbentuk jeruk yang melambangkan kemakmuran. Jeruk mandarin juga punya arti <\/span><span style=\"font-weight: 500;\">kemakmuran rejeki yang selalu bertumbuh. Kue lapis legit melambangkan rejeki yang berlimpah. Babi panggang dipercaya membawa keberuntungan. Dan pada saat <\/span><i><span style=\"font-weight: 500;\">Cap Go Meh <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\">atau hari terakhir perayaan Imlek di hari ke-15, Onde-onde tidak boleh terlewat. Jajanan tersebut dipercaya membawa keberuntungan karena keturunan Tionghoa menganggap makanan ini adalah simbol harapan baik di tahun baru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>MERAH WARNA IMLEK?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Nuansa yang selalu identik dengan perayaan Imlek adalah nuansa Merah.\u00a0 \u201cSebenarnya tidak ada ketentuan juga untuk (warna merah) ini, karena bebas juga. Tapi memang disarankan warna merah,\u201d ucap salah satu umat gereja kristus raja. Yang dimaksud \u2018bebas\u2019 oleh beliau adalah penggunaan warna-warna terang seperti merah, kuning, hijau dan biru. Yang perlu diperhatikan, saat perayaan tidak diperkenankan menggunakan nuansa monokrom atau hitam dan putih. \u201cKarena kalau memakai baju warna hitam dan putih dianggap membawa sial. Sama dianggap sebagai ungkapan rasa duka.\u201d ungkap salah satu umat gereja kristus raja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Warna merah menunjukkan keberuntungan dan kebahagiaan. Warna kuning melambangkan pertumbuhan. Warna hijau dan biru melambangkan pertumbuhan dan digunakan untuk mewakili umur panjang dan keharmonisan. Apabila warna hijau dan merah dikombinasikan menunjukkan keberuntungan dan pertumbuhan pada tahun baru imlek(3).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Perayaan imlek bagi keturunan Tionghoa tentu sangat bermakna untuk mereka dan ada juga yang memandang atau memiliki makna tersendiri di setiap individu. \u201cKita diajarkan untuk selagi masih hidup hendaknya luangkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga, karena berkumpul bersama keluarga merupakan ungkapan syukur.\u201d Ada juga yang mengatakan, \u201cmenurut saya (imlek dirayakan untuk) menghormati leluhur yang lebih tua dalam Cina, dan juga berbagi kebahagiaan dalam suatu acara.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Mari kita sambut tahun baru ini dengan penuh sukacita dan rasa bersyukur. Semoga perayaan imlek ini membawa berkat dan perubahan yang lebih baik bagi kita dan sesama serta menjadikan pelecut semangat kebersamaan dan toleransi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 500;\">Zh\u00f9 x\u012bnni\u00e1n ku\u00e0il\u00e8, b\u00ecng yu\u00e0n n\u01d0 x\u00ecngf\u00fa j\u00edxi\u00e1ng, qi\u00e1nch\u00e9ng s\u00ec j\u01d0n<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 500;\"> \u2013 <\/span><span style=\"font-weight: 500;\">Semoga Tahun Baru membawa banyak hal baik dan berkah kaya untuk Anda dan semua orang yang Anda cintai! (4)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Penulis : GR (Mikael) dan AG (Lukas)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Editor : AA<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">Referensi\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">(1).<\/span><a href=\"https:\/\/m.tribunnews.com\/nasional\/2021\/02\/08\/asal-usul-kata-imlek-untuk-tahun-baru-china-berasal-dari-dialek-hokkian-ini-sejarahnya?page=2\"><span style=\"font-weight: 500;\">https:\/\/m.tribunnews.com\/nasional\/2021\/02\/08\/asal-usul-kata-imlek-untuk-tahun-baru-china-berasal-dari-dialek-hokkian-ini-sejarahnya?page=all<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 500;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">(2).<\/span><a href=\"https:\/\/www.suara.com\/news\/2022\/01\/10\/131307\/gong-xi-fa-cai-artinya-bukan-selamat-tahun-baru-imlek-ini-arti-sebenarnya\"><span style=\"font-weight: 500;\">https:\/\/www.suara.com\/news\/2022\/01\/10\/131307\/gong-xi-fa-cai-artinya-bukan-selamat-tahun-baru-imlek-ini-arti-sebenarnya<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">(3).<\/span><a href=\"https:\/\/voi.id\/memori\/32371\/mengungkap-alasan-tak-boleh-menggunakan-pakaian-monokrom-saat-imlek-dari-filosofi-yin-yang\"><span style=\"font-weight: 500;\">https:\/\/voi.id\/memori\/32371\/mengungkap-alasan-tak-boleh-menggunakan-pakaian-monokrom-saat-imlek-dari-filosofi-yin-yang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 500;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 500;\">(4).<\/span><a href=\"https:\/\/www.bola.com\/ragam\/read\/4480496\/25-kata-kata-ucapan-selamat-tahun-baru-imlek-dalam-bahasa-mandarin-dan-artinya\"><span style=\"font-weight: 500;\">https:\/\/www.bola.com\/ragam\/read\/4480496\/25-kata-kata-ucapan-selamat-tahun-baru-imlek-dalam-bahasa-mandarin-dan-artinya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 500;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[\/cmsmasters_text][cmsmasters_image align=&#8221;center&#8221; animation_delay=&#8221;0&#8243;]https:\/\/kristusrajaungaran.com\/wp-content\/themes\/my-religion\/framework\/admin\/inc\/img\/image.png[\/cmsmasters_image][\/cmsmasters_column][\/cmsmasters_row]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Antara akhir Januari dan pertengahan Februari keturunan Tionghoa merayakan tahun baru cina atau yang disebut perayaan imlek sebagai penanda pergantian kalender China.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6702,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-6686","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-paroki"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6686","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6686"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6686\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6686"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6686"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fe.desnet.online\/parokiungaran\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6686"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}